Jumat, 03 Juni 2016

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomer 05

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomer 05
Nama              : Istifah Rianar
NPM               : 113080105
Kelas               : 3.D (Semester enam)
Mata kuliah   : Akuntansi Pemerintah / Sektor Publik
Dosen              : M.Joharudin,M.Pd


Pertemuan ke-Sembilan
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Mengingat hampir setiap aktivitas instansi pemerintah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan banyak membutuhkan persediaan. Oleh karena itu sebagai lembaga publik, yang berkewajiban menyediakan barang dan jasa publik, instansi pemerintah harus mengelola persediaannya secara baik. Sebagai asset lancar, persediaan sulit untuk dipertanggungjawabkan  pada akhir tahun anggaran karena dianggap sebagai bahan habis pakai. Oleh karena itu, pengelolaan persediaan perlu dilakukan dengan baik mengacu kepada PSAP nomor 5 dengan dipandu oleh modul akuntansi persediaan ini. Modul akuntansi persediaan ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi instansi pemerintah untuk mengelola persediaan secara akuntabel dan transparan.

B.            Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:

1.    Memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)

2.    Mampu mengimplementasikan SAP dalam mengukur, mengakui, mencatat dan menyajikan persediaan dalam Laporan Keuangan


Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1.    Memahami definisi dan ruang lingkup persediaan
2.    Menguasai teknis pengakuan, pengukuran dan penilaian persediaan
3.    Memahami pengungkapan dan penyajian persediaan dalam laporan keuangan.


C.    Deskripsi Ringkas
Persediaan dalam kegiatan operasional pemerintah pada umumnya merupakan barang habis pakai, sehingga pengelolaan dan pertanggungjawabannya masih kurang mendapat perhatian. Pengelolaan dan pencatatan persediaan selama ini diberbagai instansi pemerintah belum mempunyai acuan yang baku, sehingga masih beragam antar metode dan cara pencatatan yang digunakan. Sejalan dengan itu diharapkan modul persediaan ini dapat menjadi acuan yang baku dalam penyajian persediaan.

D.           Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara pemaparan teori yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi soal-soal latihan dan contoh kasus yang berkaitan dengan penilaian, pengukuran, pengakuan dan penyajian persediaan dalam laporan keuangan.

BAB II
PERSEDIAAN

A.           Tujuan
Dalam upaya menghasilkan laporan keuangan yang akuntabel dan transparan, maka seluruh transaksi keuangan yang dilakukan oleh instansi pemerintah harus dicatat dan dilaporkan sesuai dengan akun dari masing-masing transaksi. Pengeluaran terhadap kebutuhan sehari-hari perkantoran dicatat sebagai belanja barang dan belum dilaporkan sebagai persediaan didalam laporan keuangan. Sehubungan dengan itu untuk memberikan pemahaman tentang transaksi dimaksud dan pengaruhnya terhadap suatu akun, dan  sejalan dengan tujuan standar akuntansi pemerintahan untuk mengatur perlakuan akuntansi terhadap persediaan maka disusun modul akuntansi persediaan ini.


B.            Ruang Lingkup Persediaan
PSAP 05 tentang persediaan diterapkan dalam penyajian seluruh persediaan dalam laporan keuangan yang disusun dan disajikan dengan basis cash towards accrual, di mana menggunakan basis kas untuk pengakuan pos-pos pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan, serta basis akrual untuk pengakuan pos-pos aset, kewajiban, dan ekuitas. Standar ini diterapkan untuk seluruh entitas pemerintah pusat dan daerah serta tidak termasuk perusahaan negara/daerah.
Akuntansi persediaan bagi pemerintah pusat dan daerah yang diatur meliputi:
a.       Definisi,
b.      Pengakuan,
c.       Pengukuran,  dan
d.      Pengungkapan.

C.           Definisi
Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
Dalam upaya memberikan pemahaman yang mendalam terhadap persediaan, maka perlu diberikan batasan yang dapat dipedomani untuk dapat mengklasifikasikan suatu  aset kedalam kelompok persediaan. PSAP nomor 5 menyatakan bahwa suatu aset digolongkan kedalam persediaan apabila:
·         Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan operasional pemerintah;
·         Bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses produksi;
·         Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat.
·         Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka kegiatan pemerintahan;
Dari uraian tersebut diatas persediaan dapat meliputi:
·      Barang Konsumsi;
·      Amunisi;
·      Bahan untuk pemeliharaan;
·      Suku cadang;
·      Persediaan untuk tujuan strategis/tujuan berjaga-jaga;
·      Pita cukai dan leges;
·      Bahan baku;
·      Barang dalam proses/setengahjadi;
·      Tanah/bangunan untuk dijual/diserahkan kpd masyarakat;
·      Hewan dan tanaman untuk dijual/diserahkan kpd masyarakat.

     Dalam suatu transaksi keuangan dimana pengeluaran yang dilakukan pemerintah ditujukan untuk tujuan cadangan strategis/ berjaga-jaga, barang-barang yang diperoleh diakui sebagai persediaan. Sebagai contoh pemerintah membeli  bahan bakar minyak sebagai cadangan energi dan membeli beras untuk cadangan pangan.
Apabila pemerintah membeli hewan dan tanaman untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat antara lain berupa sapi, kuda, ikan, benih padi, dan bibit tanaman, juga diakui sebagai persediaan.


BAB III
PENGAKUAN DAN PENGUKURAN PERSEDIAAN

A.      Pengakuan Persediaan
Persediaan diakui pada saat :
a.       Potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
b.      Diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah.

Persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik pada akhir periode akuntansi. Untuk persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki proyek swakelola dan dibebankan ke akun konstruksi dalam pengerjaan, tidak diakui sebagai persediaan.
Inventarisasi fisik terhadap persediaan dapat berupa  penghitungan, pengukuran atau penimbangan barang pada akhir masa pembukuan untuk menghitung jumlah (kuantitas) suatu  persediaan. Kemudian berdasarkan jumlah(kuantitas) tersebut diperoleh suatu nilai rupiah persediaan yang bersangkutan untuk dimasukkan ke dalam pembukuan. Inventarisasi fisik dilakukan pada setiap akhir periode akuntansi.
Berikut ini adalah jurnal yang harus dibuat apabila suatu entitas menggunakan metode pencatatan persediaan  dengan sistem periodic Belanja Barang Persediaan melalui mekanisme UP (Uang Persediaan)

1.      Pencatatan transaksi pembelian persediaan
SKPD
Uang Muka dari Kas Daerah
Rp xxx

Kas di Bendahara Pengeluaran

Rp  xxx

BUD
Tidak ada jurnal





2.      Penerbitan SP2D-GU
SKPD
Belanja Barang
Rp xxx

Piutang dari BUD

Rp  xxx

BUD
Belanja Barang
Rp xxx

Kas di Kas Daerah

Rp  xxx
Belanja Barang Persediaan melalui mekanisme LS (Langsung)
Pencatatan transaksi Belanja Barang Persediaan
SKPD
Belanja Barang
Rp xxx

Piutang dari BUD

Rp  xxx

BUD
Belanja Barang
Rp xxx

Kas di Kas Daerah

Rp  xxx
Selanjutnya pembelian barang tersebut dicatat dalam buku persediaan untuk dapat dilakukan pengadministrasian dan penatausahaan dari barang persediaan dimaksud, sehingga apabila pada akhir periode dilakukan opname fisik persediaan dapat diketahui nilainya.
            Pengurangan dan penggunaan suatu persediaan harus dicatat didalam buku persediaan sesuai dengan tanggal terjadinya.
Persediaan
Rp xxx

Cadangan Persediaan

Rp  xxx

(Pencatatan saldo persediaan akhir periode akuntansi di SKPD)


B.      Pengukuran Persediaan
Nilai persediaan meliputi seluruh belanja yang dikeluarkan sampai suatu barang persediaan tersebut dapat dipergunakan. Dalam PSAP 5 dalam paragraf 18 dikatakan bahwa persediaan disajikan sebesar:
(a)            Biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian;
(b)           Biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;
(c)            Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan.
Dari uraian diatas, pengukuran persediaan dapat dilihat pada gambar berikut ini:


Persediaan  disajikan sebesar:
§  Biaya perolehan, apabila diperoleh dengan pembelian;
Biaya perolehan persediaan meliputi harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat dibebankan pada perolehan persediaan. Potongan harga, rabat, dan sejenis lainnya akan mengurangi biaya perolehan. Nilai pembelian yang digunakan adalah biaya perolehan persediaan yang terakhir diperoleh. Untuk persediaan yang memiliki nilai nominal yang dimaksudkan untuk dijual, seperti pita cukai, dinilai dengan biaya perolehan terakhir.

Contoh:
Dibeli suatu persediaan kertas HVS sebanyak 100 rim dengan harga Rp. 10.000 /rim, dimana untuk pembeliannya dikenakan biaya angkut sebesar Rp. 10.000 dan diberikan potongan harga sebesar Rp. 500/rim. Maka nilai persediaan yang akan dimasukkan kedalam buku persediaan adalah sebesar:

      Harga beli (100 rim x Rp. 10.000)                  Rp. 1.000.000,-
Biaya angkut                                                   Rp.      10.000,-
            Total harga                                                      Rp. 1.010.000,-
Dikurangi potongan harga (Rp. 500 x 100)    Rp.    50.000,-
Nilai persediaan sebesar                               Rp.    960.000,-

§  Biaya standar, apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;
Biaya standar persediaan meliputi biaya langsung yang terkait dengan persediaan yang diproduksi dan biaya tidak langsung yang dialokasikan secara sistematis berdasarkan ukuran-ukuran yang digunakan pada saat penyusunan rencana kerja dan anggaran.
§  Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan;
Persediaan hewan dan tanaman yang dikembangbiakkan dinilai dengan menggunakan nilai wajar. Harga/nilai wajar persediaan meliputi nilai tukar aset atau penyelesaian kewajiban antar pihak yang memahami dan berkeinginan melakukan transaksi wajar.

Perhitungan biaya persediaan
Biaya persediaan berdasarkan PSAP No.5 harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai (present location and condition).
Biaya pembelian  persediaan meliputi harga pembelian, bea masuk dan pajak lainnya (kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh organisasi kepada kantor pajak) dan biaya pengangkutan, penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan dan jasa. Diskon dagang (trade discount), rabat dan pos lain yang serupa dapat dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.

Biaya konversi Persediaan
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang diproduksi dan biaya overhead produksi tetap dan biaya overhead variabel yang dialokasikan secara sistematis, yang terjadi dalam proses konversi bahan menjadi barang jadi. Biaya overhead produksi tetap adalah biaya produksi tak langsung yang relatif konstan, tanpa memperhatikan volume produksi yang dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik serta biaya manajemen dan administrasi pabrik. Biaya overhead produksi variabel adalah biaya yang berubah secara langsung atau hampir secara langsung mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tak langsung dan upah tak langsung.
Biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai.

BAB IV
PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN PERSEDIAAN

     Persediaan disajikan dalam  kelompok aset lancar pada neraca pemerintah berdasarkan harga perolehan terakhir jika persediaan diperoleh dengan pembelian, sebesar biaya standar yang dikeluarkan jika persediaan diproduksi sendiri dan sebesar nilai wajar jika diperoleh dengan cara lain seperti donasi/rampasan.
     Persediaan disajikan didalam neraca dengan akun lawan cadangan persedian yang merupakan bagian dari ekuitas dana lancar. Kedua akun tersebut harus disajikan dengan jumlah yang sama (self balancing).
     Disamping penyajian diatas hal-hal lain yang dipandang perlu untuk diungkapkan dalam laporan keuangan sehubungan dengan persediaan meliputi:
1.             Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan;
Penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang digunakan dalam pelayanan masyarakat, barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi, barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat, dan barang yang masih dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat;
2.             Kondisi persediaan;
Persediaan dengan kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan dalam neraca, tetapi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Hal-hal tersebut di atas tidak dilaporkan dalam neraca tetapi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan keuangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar