Pengelolaan Knowledge Management Capability Dalam Memediasi Dukungan Information
Technology Relatedness Terhadap Kinerja Manajerial
Dengan Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen Sebagai Variabel Intervening Dalam Proses Bisnis Dan Dinamika Bersaing
Suatu Perusahaan
Makalah Review Jurnal
diajukan untuk memenuhi
salah satu tugas kelompok Mata Kuliah
Akuntansi Keuangan Lanjutan II
Oleh :
1.
Istifah Rianar
2.
Yudha Kesuma
3.
Nur Fasihah
4. Anggun Fiesta
5.
Naily Rokhmah
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
EKONOMI
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SWADAYA
GUNUNG JATI
CIREBON
2016
ABSTRAK
Tujuan dari makalah review jurnal ini adalah untuk
mengetahui apakah Pengelolaan knowledge management capability dalam memediasi dukungan information
technology relatedness terhadap kinerja manajerial dengan karakteristik sistem akuntansi manajemen
sebagai variabel intervening dalam
proses bisnis dan dinamika bersaing suatu perusahaan. Pengelolahan hasil
makalah review ini didapatkan dari beberapa jurnal penelitian yang dilakukan
oleh Luluk Muhimatul Ifada mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung [2011],
Timbul Hamonangan Simanjuntak mahasiswa Politeknik Bahasa Indonesia, Sri Maharsi Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, Kiki Widiastuti, Wahyu Meiranto, S.E., M.Si.,
Akt mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang, dan Eunike Karunia Sentosa mahasiswa Unika Widya
Mandala Surabaya [2012], menyatakan bahwa pengelolahan knowledge management
capability secara positif sebagai mediasi information
technology relatedness dapat menciptakan dan
mengeksploitasi sinergi lintas unit dari produk, pelanggan, dan managerial knowledge
resource, yang berpengaruh terhadap bidang akuntansi
manajemen selaku bidang penghasil informasi
dalam rangka perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan manajemen.
Information
technology relatedness juga berpengaruh pada setiap aktivitas proses bisnis serta
dinamika kompetitif yang tidak hanya dipengaruhi oleh
dukungan teknologi informasi dalam setiap proses bisnis, tetapi juga
dipengaruhi oleh sumber daya manusia untuk mengelola IT dimana pengaruh yang
timbul akibat information technology relatedness tersebut dapat
bersifat menguntungkan maupun merugikan perusahaan.
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
review jurnal dengan judul “Pengelolaan
Knowledge Management Capability
Dalam Memediasi Dukungan Information Technology Relatedness
Terhadap Kinerja Manajerial Dengan
Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen Sebagai Variabel Intervening Dalam Proses Bisnis Dan Dinamika Bersaing
Suatu Perusahaan”.
Dalam penyusunan makalah review jurnal ini, kami banyak mendapat tantangan
dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak, tantangan itu bisa
teratasi. Untuk itu kami menyampaikan ucapan terima kasih
kepada;
1.
Kedua orang tua kami yang telah memberikan dukungan
2.
Endang Herawan, Drs.,M.M. selaku dosen Mata Kuliah Akuntansi
Keuangan Lanjutan II
3.
Kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah review jurnal, semoga
bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Kami menyadari bahwa makalah review jurnal ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun isi pokok bahasannya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah
review jurnal selanjutnya. Akhir kata
semoga makalah review jurnal ini dapat
memberikan manfaat kepada kita sekalian.
Cirebon
, Maret 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
ABSTRAK
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
1.2 Identifikasi Masalah
1.3 Batasan Masalah
1.4 Rumusan Masalah
1.5 Tujuan Penelitian
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
BAB III PEMBAHASAN
MASALAH
BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan
4.2 Saran
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
- LAMPIRAN
BAB
I
PENDAHULUAN
Pengertian paling
mendasar tentang IT Relatedness (information technology relatedness) adalah
penerapan
empat dimensi secara komplementer dalam meningkatkan kinerja
perusahaan. Karena itu teknologi informasi saat ini menjadi competitive
advantage dilingkungan masyarakat
saat ini yang sangat penting dalam menentukan daya saing dan kemampuan
perusahaan untuk meningkatkan kinerja perusahaan di masa mendatang, pernyataan
tersebut jelas membuktikan bahwa kemajuan teknologi informasi tidak dapat
dihindarkan lagi dimana manajemen organisasi harus tanggap pada perubahan
lingkungan ini agar organisasi tersebut tetap dapat bertahan dan dapat meningkatkan
kinerja didalam perusahaannya.
Manajemen organisasi juga harus sensitif terhadap pengaruh
perkembangan teknologi yang mencakup informasi, peralatan teknik dan proses
dalam mengubah input menjadi output. Selain itu, manajemen harus dapat memahami
dengan baik peran sistem informasi dalam organisasi (Eliot, 1992). Perubahan
lingkungan ini juga menuntut akuntansi manajemen sebagai suatu sistem informasi
untuk menyediakan informasi yang dapat dipercaya, relevan, tepat waktu,
lengkap, dapat dipahami, dan teruji dalam rangka pengambilan keputusan
manajemen, seperti halnya dunia perbankan yang berkembang pesat saat ini,
menjadikan persaingan dunia perbankan yang cukup ketat, oleh sebab itu peranan
teknologi sangat dibutuhkan untuk mendukung pelayanan kepada nasabah secara
langsung, mendukung kegiatan back office, serta mendukung manajemen dalam mengelola bank, dan pengambilan
keputusan sangat penting bagi dunia perbankan, untuk diperhatikan dalam
menentukan kesuksesan dan merupakan sebuah keunggulan kompetitif (Amrul 2004).
Loebecke dan Jelassi (1994).
Ada empat dimensi information
technology relatedness yang telah
dikonseptualisasikan oleh Tanriverdi (2006) melalui sumber dari sinergi
teknologi informasi yang meningkatkan kinerja perusahaan tersebut yaitu information
technology strategy making processes, information technology vendor management processes,
information technology human resource management processes dan information
technology infrastructure yang
memiliki keharusan untuk dilakukan secara bersama-sama yang akan
memunculkan sinergi nilai super additive dan menjadi sumber daya yang
sukar untuk ditiru, tapi apabila dari empat dimensi individu information
technology relatedness dilakukan
secara terpisah memungkinkan pesaing meniru sinergi sub-additive cost
yang timbul dari keempat dimensi individu information technology
relatedness sehingga relatedness dari sumber daya nonstrategic tersebut
tidak dapat meningkatkan kinerja.
Selain
itu, kerangka kerja yang paling terkenal untuk menganalisis persaingan adalah
model tekanan persaingan dari Porter (Porter, 1985; dalam Turban, dkk, 2006).
Model ini digunakan untuk mengembangkan berbagai strategi perusahaan agar dapat
meningkatkan kemampuan bersaingnya. Model ini menunjukkan bagaimana TI dapat
meningkatkan kemampuan bersaing perusahaan dengan menggunakan strategi
keunggulan kompetitif, diantaranya: (1) Strategi kepemimpinan biaya. (2)
Strategi diferensiasi. (3) Strategi relung pasar (niche). (4) Startegi
pertumbuhan. Dan (5) Strategi inovasi.
Tanriverdi
(2005) dengan melibatkan 250 perusahaan yang terdaftar dalam Fortune 1000,
menunjukkan bahwa sinergi dari information technology relatedness unit-unit
bisnis meningkatkan knowledge management capability lintas unit
perusahaan yang dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Yang terdiri
atas tiga strategi knowledge yang
dikelolah dan diterapkan secara bersama-sama yaitu : product knowledge,
customer knowledge dan managerial knowledge. Kajian menarik
terkait dengan information technology relatedness selanjutnya adalah
Fenomena knowledge management mengindikasikan bahwa knowledge
management capability dapat menjadi perantara antara teknologi informasi
dan kinerja perusahaan (Barua dan Mukhopadhyay 2000 dalam Lestari 2007).
Tulisan ini, lebih lanjut akan menguraikan tentang analisis pengelolaan
knowledge management capability
dalam memediasi dukungan information technology relatedness
terhadap kinerja manajerial dengan
karakteristik sistem akuntansi manajemen sebagai variabel intervening dalam proses bisnis dan dinamika bersaing
suatu perusahaan.
1.1
Latar
Belakang
Dalam
era bisnis global saat ini kehadiran serta pesatnya perkembangan teknologi
informasi telah memberikan berbagai kemudahan pada kegiatan bisnis dalam
lingkungan yang semakin penuh dengan dinamika
bersaing. Teknologi informasi
merupakan bagian dari sistem informasi dan teknologi informasi merujuk pada
teknologi yang digunakan dalam menyampaikan maupun mengolah informasi (Aji,
2005). Peran teknologi informasi sebagai tools atau alat bantu dalam
pembuatan keputusan bisnis pada berbagai fungsi maupun peringkat manajerial,
menjadi semakin penting bagi pengelola bisnis karena kemampuan teknologi
informasi dalam mengurangi ketidakpastian.
Adanya
tuntutan TI dalam perubahan global suatu organisasi tersebut menjawab segala
ancaman dan memberikan kesempatan dalam lingkungan bersaing dan mendesain serta
menggunakan sistem pengendalian yang tepat, untuk mencapai tujuan ini
perusahaan.
Teknologi
informasi telah banyak memberikan kontribusi pada berbagai bidang dan aspek
kehidupan manusia. Salah satunya aspek kegiatan bisnis, dan perbankan dimana
teknologi informasi banyak memberikan kemudahan bagi para pelaku kegiatan
bisnis dan perbankan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya dan telah membuat
dinamika baru yang mendasar bagi organisasi baik swasta maupun organisasi
publik.
Oleh karena itu perlu adanya kajian yang mendalam mengenai
teknologi informasi menjadi suatu hal yang sangat penting dalam kaitannya
dengan pengelolaan knowledge management capability. Teknologi informasi
saat ini menjadi competitive advantage
yang sangat penting dalam menentukan daya saing dan kemampuan perusahaan untuk
meningkatkan kinerja dimasa mendatang. Kajian ini juga dilakukan untuk memenuhi
tugas yang diberikan oleh dosen dalam Mata Kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan 2
yang perlu diteliti kemudian di analisa dalam sebuah makalah review jurnal yang
diharapkan akan bermanfaat dikemudian hari.
1.1 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang
telah dikemukakan diatas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Pemanfaatan
Variabel Intervening dari Information Technology terhadap Knowladge Management dan Kinerja
Perusahaan.
2. Berkembangnya
teknologi informasi, mempengaruhi semua aktivitas organisasi yang telah
dimasuki oleh aplikasi dan otomatisasi teknologi informasi.
3. Tekanan
persaingan global telah mengubah lingkungan ekonomi yang menuntut adanya
pengembangan terhadap praktek-praktek akuntansi manajemen yang inovatif dan
relevan.
4. Adanya
pengaruh positif antara desentralisasi terhadap kinerja manajerial dengan
dibantu oleh karakterisktik sistem akuntansi manajemen.
5. Perusahaan
menggunakan strategi keunggulan kompetitif dan dinamika bersaing yang sangat
berpengaruh dalam kegiatan bisnis.
1.2
Batasan
Masalah
Agar penulisan makalah ini tidak menyimpang dari tujuan yang
semula direncanakan sehingga mempermudah mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, maka penulis
menetapkan batasan-batasan sebagai berikut:
1. Pengaruh
Variabel Intervening dari Information Technology Relatedness
terhadap Knowledge Management Capability
dan Kinerja Perusahaan dibatasi sampai dengan
2. Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap
Bidang Akuntansi Manajemen dibatasi sampai dengan
3. Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Saling
Ketergantungan Terhadap Karakteristik Informasi Akuntansi Manajemen Serta
Dampaknya Terhadap Kinerja Manajerial dibatasi sampai dengan
4. Kontribusi Nilai Teknologi Informasi Terhadap
Kinerja Proses Bisnis Dan Dinamika Bersaing dibatasi sampai dengan
1.3
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana
Pengaruh Variabel Intervening dari Information Technology Relatedness
terhadap Knowledge Management Capability
dan Kinerja Perusahaan?
2. Bagaimana Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi
Terhadap Bidang Akuntansi Manajemen?
3. Bagaimana Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi
Dan Saling Ketergantungan Terhadap Karakteristik Informasi Akuntansi Manajemen
Serta Dampaknya Terhadap Kinerja Manajerial?
4. Bagaiman Kontribusi Nilai Teknologi Informasi
Terhadap Kinerja Proses Bisnis Dan Dinamika Bersaing?
1.4
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan
masalah diatas maka dapat dirumuskan tujuan dari penelitian ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh variabel intervening dari information technology relatedness
terhadap knowledge management
capability dan kinerja perusahaan.
2. Untuk mengetahui pengaruh perkembangan teknologi
informasi terhadap bidang akuntansi manajemen.
3. Untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan teknologi
informasi dan saling ketergantungan terhadap karakteristik informasi akuntansi
manajemen serta dampaknya terhadap kinerja manajerial.
4. Untuk mengetahui kontribusi nilai teknologi
informasi terhadap kinerja proses bisnis dan dinamika bersaing.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Information Technology Relatedness
Teknologi informasi muncul sebagai akibat semakin merebaknya
globalisasi dalam kehidupan organisasi, semakin kerasnya persaingan bisnis,
semakin singkatnya siklus hidup barang dan jasa yang ditawarkan, serta
meningkatnya tuntutan selera konsumen terhadap produk dan jasa yang ditawarkan.
Untuk mengantisipasi semua ini, perusahaan mencari terobosan baru dengan
memanfaatkan teknologi. Teknologi diharapkan dapat menjadi fasilitator dan
interpreter.
Teknologi informasi dapat didefinisikan sebagai perpaduan
antara teknologi komputer dan telekomunikasi dengan teknologi lainnya seperti
perangkat keras, perangkat lunak, database, teknologi jaringan, dan
peralatan telekomunikasi lainnya. Selanjutnya, teknologi informasi dipakai
dalam sistem informasi organisasi untuk menyediakan informasi bagi para pemakai
dalam rangka pengambilan keputusan. Ada berbagai macam sistem informasi dengan
menggunakan teknologi informasi yang muncul, antara lain Electronic Data
Processing Systems, Data Processing Systems (DPS), Decision Support
System (DSS), Management Information System (MIS), Executive Information
Systems (EIS), Expert System (ES) dan Accounting Information System
(AIS) (Bodnar, 1998). Saluran komunikasi yang dapat digunakan untuk
berkomunikasi adalah standard telephone lines, coaxial cable, fiber optics,
microwave systems, communications satellites, cellular radio and telephone. Sedangkan
konfigurasi jaringan yang dapat dipakai untuk berkomunikasi adalah Wide Area
Network (WAN), Local Area Network (LAN), dan Client/Server Configurations
(Romney, 2000).
Dari penjelasan definisi diatas dalam kaitannya Information
Technology Relatedness
(information technology relatedness) adalah penerapan empat dimensi secara komplementer dalam meningkatkan kinerja perusahaan, empat dimensi tersebut
diantaranya:
1. Information
technology strategy making processes
Adalah suatu fokus pada
penggunaan proses manajerial umum yang kemungkinan meningkatkan
koordinasi strategi teknologi informasi pada lintas unit bisnis. Sebagai contoh, proses umum untuk
merumuskan strategi teknologi informasi (Segars dan Grover 1998), menyesuaikan
bisnis dan strategi teknologi informasi (Sabherwal dan Chan 2001), mengelola
hubungan antara unit bisnis dan teknologi informasi (Henderson 1990 dalam
Tanriverdi 2006), serta penanaman modal dalam teknologi informasi (Weill dan
Broadbent 1998 dalam Tanriverdi 2006). Ukuran untuk mewakili dimensi ini
berjumlah 3 item pertanyaan seperti “proses yang digunakan oleh perusahaan
untuk mensejajarkan strategi teknologi informasi dengan strategi bisnis”.
Jawaban 1 berarti proses yang digunakan oleh perusahaan dalam strategi
teknologi informasi akan lebih spesifik untuk disejajarkan pada strategi bisnis
masing-masing unit bisnisnya dan sebaliknya mendekati menjawab 5 berarti proses
yang digunakan oleh perusahaan dalam strategi teknologi informasi lebih umum
disejajarkan untuk strategi bisnis bagi semua unit-unit bisnisnya.
2.
Information technology vendor management
processes
Adalah fokus pada penggunaan tujuan strategis umum dan proses
manajemen vendor yang mungkin meningkatkan koordinasi hubungan information
technology vendor dan peningkatan kekuatan negosiasi perusahaan terhadap information
technology vendor. Sebagai contoh, tujuan strategis umum untuk memasuki
hubungan vendor, proses yang umum untuk negosiasi, deal making, dan deal
management (Brown dan Ross 2003). Ukuran untuk dimensi ini menggunakan 4
item pertanyaan. Di antara pertanyaan yang diajukan adalah “tujuan strategis
perusahaan untuk memakai outsourcing teknologi informasi”. Apabila
jawaban angka 1, maka berarti tujuan strategis perusahaan untuk memakai outsourcing
teknologi informasi akan dipertimbangkan spesifik untuk setiap unit-unit
bisnis lebih bervariasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing unit. Sebaliknya,
mendekati jawaban 5 berarti dalam merumuskan tujuan strategis perusahaan untuk
memakai outsourcing teknologi informasi lebih untuk semua unit-unit
bisnis secara umum.
3.
Information technology human resource
management processes
Adalah suatu fokus pada penggunaan dari proses information technology
human resource (IT-HR) umum yang mungkin membuka peluang suatu perusahaan
untuk mengeksploitasi keterampilan teknologi informasinya dan know how pada
lintas berbagai unit bisnis. Sebagai contoh, perekrutan, pelatihan, motivasi,
dan retention processes (Agarwal dan Ferratt 2002). Untuk mengukurnya,
maka digunakan 5 item pertanyaan. Di antaranya dengan pertanyaan “peluang yang
diberikan oleh perusahaan untuk mengarahkan bakat SDM teknologi informasi dalam
mencapai tujuan bisnis”. Semakin jawaban ke arah angka 5, maka peluang yang
diberikan oleh perusahaan untuk mengarahkan bakat SDM teknologi informasi dalam
mencapai tujuan bisnis akan lebih didesain secara umum untuk semua unit-unit bisnis
dalam perusahaan
4.
Information technology infrastructure
Adalah suatu fokus pada penggunaan
perangkat keras umum, perangkat lunak, dan teknologi komunikasi pada lintas
unit bisnis (Weill dan Broadbent 1998 dalam Tanriverdi 2006). Dalam dimensi ini
diukur dengan menggunakan 7 item pertanyaan. Beberapa pertanyaan yang diajukan
adalah: “kebijakan yang digunakan oleh perusahaan untuk mengatur infrastruktur
teknologi informasi antar unit bisnis; standar software, hardware dan
komunikasi teknologi informasi yang digunakan oleh perusahaan untuk unit-unit
bisnisnya”. Semakin jawaban ke arah angka 5, maka infrastruktur teknologi
informasi dan standar software, hardware, serta standar
komunikasi teknologi informasi perusahaan akan lebih didesain secara umum untuk
semua unit-unit bisnis dalam perusahaan.
2.2
Knowledge Management Capability
Knowledge Management
Capability didefinisikan sebagai kemampuan
perusahaan untuk menciptakan, transfer, integrasi, dan meningkatkan knowledge
yang dihubungkan antar unit-unit bisnis perusahaan. Knowledge management
capability merupakan penerapan product knowledge management capability,
customer knowledge management capability dan managerial knowledge
management capability yang saling melengkapi satu sama lain, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Product knowledge
Adalah suatu fokus pada
keahlian dan pengetahuan operasional serta research and development perusahaan
dalam mengembangkan dan menghasilkan produk atau jasa perusahaan (Tanriverdi
2005). Ukuran untuk mewakili dimensi ini berjumlah 4 item pertanyaan
seperti “menggabungkan pengetahuan operasional, research and development antar
unit bisnis dalam membuat produk baru”. Jawaban 1 berarti peran antar unit
bisnis dalam menggabungkan pengetahuan operasional, research and development
untuk membuat produk baru sangat kecil dan sebaliknya mendekati menjawab 5
berarti semakin besar peran antar unit bisnis dalam menggabungkan pengetahuan
operasional, research and development untuk membuat produk baru.
2.
Customer knowledge
Adalah
suatu fokus pada keahlian dan pengetahuan
pemasaran tehadap kebutuhan, pilihan, dan perilaku membeli customer serta
kebijakan manajerial antar unit bisnis (Tanriverdi 2005). Ukuran dimensi ini
berjumlah 4 item pertanyaan diantaranya “mentransfer pengetahuan yang relevan
tehadap kebutuhan, pilihan, dan perilaku membeli dari customer diantara
unit-unit bisnis”. Jawaban 1 berarti transfer pengetahuan yang relevan tehadap
kebutuhan, pilihan, dan perilaku membeli dari customer diantara
unit-unit bisnis sangat kecil. Sedangkan menjawab 5 berarti transfer
pengetahuan yang relevan terhadap kebutuhan, pilihan, dan perilaku membeli dari
customer diantara unit-unit bisnis sangat besar.
3.
Managerial knowledge
Adalah suatu fokus pada
keahlian dan pengetahuan manajerial serta praktik manajerial termasuk kebijakan
dan proses manajerial perusahaan (Tanriverdi 2005). Dalam dimensi ini diukur
dengan menggunakan 4 item pertanyaan diantaranya “mentransfer praktek
manajerial yang terbaik dan relevan diantara unit-unit bisnis”. Jawaban 1
berarti transfer praktek manajerial yang terbaik dan relevan diantara unit-unit
bisnis sangat kecil. Semakin jawaban ke arah angka 5, maka berarti transfer
praktek manajerial yang terbaik dan relevan diantara unit-unit bisnis semakin
besar.
2.3
Kinerja Perusahaan
Menurut
Govindarajan dan Gupta, (1985) : Nauri dan Parker, (1998) dalam Arsono dan
Muslichah (2002) kinerja
manajerial adalah kemampuan manajemen dalam melakasanakan
tanggung jawabnya terhadap
kualitas, kuantitas, ketepatan waktu, pengembangan personel,
pencapain anggaran,
pengurangan biaya (peningkatan pendapatan). Kinerja diperasionalkan sebagai
kinerja perusahaan.
Kinerja perusahaan merupakan suatu
proses berkesinambungan yang melibatkan sumber daya manusia untuk mencapai
hasil yang diinginkan, Kinerja perusahaan juga dapat diartikan sebagai kinerja
anggota organisasi dalam kegiatan manajerial yang meliputi: perencanaan,
investigasi, koordinasi, supervisi, pengaturan staff, negosiasi dan
representasi (Mahoney et al 1963 dalam Arsono dan Muslichah, 2002).
Menurut Govindarajan dan Gupta, (1985) : Nauri dan Parker, (1998) dalam Arsono
dan Muslichah (2002) kinerja manajerial adalah kemampuan manajemen dalam
melakasanakan tanggung jawabnya terhadap kualitas, kuantitas, ketepatan waktu,
pengembangan personel, pencapain anggaran, pengurangan biaya (peningkatan
pendapatan). Penilaian kinerja adalah bagaimana kita menentukan secara periodik
efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya
berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Tujuan pokok kinerja adalah untuk memotivasi tujuan dalam mencapai sasaran
organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan
sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan dengan melalui
umpan balik kerja.
Kinerja
perusahaan mencakup kinerja perusahaan secara keseluruhan sehingga dihasilkan
ukuran kinerja yang objektif (Govindrajat Dan Fisher, 1990). Instrumen ini
dikembangkan oleh Govindrajat Dan Fisher [1990] berupa kinerja persepsian
dengan membandingkan kinerja yang dicapai saat ini dan standar kinerja yang
telah ditargetkan perusahaan.
2.4
Saling Ketergantungan
Chenhal dan Moris (1986), mendifinisikan
tentang saling ketergantungan (interpedensi) sebagai tingkat dimana departemen
tergantung satu sama lain untuk menyelesaikan tugas mereka. Saling
ketergantungan merupakan variabel penting dalam hubungan kontraktual. Perbedaan
fungsi dan spesialis organisasi memungkinkan terjadinya saling ketergantungan
organisasional (Aldrich 1976, dalam Arsono dan Muslichah 2002). Dalam Arsono
dan Muslichah (2002), Robbins (2001) mengidentifikasi tiga bentuk saling
ketergantungan, yaitu :
a.
Sequential interdependence:
Satu kelompok tergantung pada suatu kelompok lain untuk masukannya tetapi
ketergantungan itu hanya satu arah, misalnya Bagian Kredit dan Bagian Dana.
b.
Pooled interdependence:
Dua atau lebih unit menyumbang output secara terpisah ke unit yang lebih besar,
misalnya bagian Akuntansi/IT dan Bagian Operasional.
c.
Reciprocal interdependence:
Dimana kelompok – kelompok bertukar masukan dan keluaran, misalnya kelompok
pemasaran dan dana.
2.5
Karakteristik Sistem Akuntansi
Manajemen (SAM)
Adanya perkembangan Information Technology relatedness berkaitan dengan
adanya informasi sam sebagai sistem informasi yang menghasilkan
keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang
diperlukan untuk memenuhi tujuan manajemen. proses ini dapat dideskripsikan
melalui berbagai kegiatan seperti pengumpulan, pengukuran, penyimpanan,
analisis, pelaporan, dan pengelolan informasi. Keluaran mencakup laporan
khusus, harga pokok produk, biaya pelanggan, anggaran, laporan kinerja, dan komunikasi personal (hansen dan
mowen, 2004).
Perencanaan SAM merupakan bagian dari
sistem pengendalian organisasi yang perlu mendapatkan perhatian sehingga
diharapkan bisa memberikan kontribusi positif didalam mendukung keberhasilan
sistem pengendalian organisasi. Menurut Chenhall dan Morris (1986) dalam Arsono
dan Muslichah (2002) mengidentifikasi 4 (empat) karakteristik informasi SAM
yaitu sebagai berikut :
1. Broad
Scope
2. Timeliness
3. Aggregation
4. Integration
2.6
Definisi Operasional Variabel
Intervening
Chenhall dan Morris (1986) dalam Arsono
dan Muslichah (2002) mengidentifikasi empat karakteristik informasi SAM, namun
diantara keempat karakteristik tersebut informasi broad scope telah
teridentifikasi sangat penting dalam membantu pengambilan keputusan manajerial.
SAM dioperasionalkan sebagai
ketersediaan informasi SAM. Sesuai dalam Arsono dan Muslichah variabel SAM ini
akan diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Chenhall dan
Morris (1986) dan secara meluas telah digunakan oleh peneliti dibidang
akuntansi. Instrumen tersebut digunakan untuk mengukur persepsi informasi yang
bermanfaat bagi para manajer. Variabel sistem akuntansi manajemen (SAM) ini
diukur dengan menggunakan skala likert dengan instrumen yang dikembangan
sendiri oleh peneliti yang terdiri dari sembilan pertanyaan dimana pertanyaan
didasarkan indikator yang dikemukaan oleh Chabhall & morris (1986) dalam
Arsono dan Muslichah (2002).
2.7
Proses Bisnis
Menurut Rama dan Jones (2008:3) proses
bisnis merupakan seperangkat aktivitas yang dilakukan oleh suatu bisnis untuk
memperoleh, menghasilkan, serta menjual barang dan jasa.
2.8
Rantai Nilai
Rantai nilai Porter dalam McLeod dan
Schell (2004:31) menyatakan, pusat dari teori Porter adalah konsep marjin.
Marjin adalah nilai produk dan jasa perusahaan, seperti yang diyakini oleh
pelanggan perusahaan itu, dikurangi biaya-biayanya. Porter dalam McLeod dan
Schell (2004:31) menyatakan perusahaan menciptakan nilai dengan melaksanakan
aktivitas, yang disebut aktivitas nilai (value activities). Aktivitas
nilai ini dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu aktivitas nilai utama dan
aktivitas nilai pendukung.
2.9 Model Tekanan Persaingan
Kerangka
kerja yang paling terkenal untuk menganalisis persaingan adalah model tekanan persaingan
dari Porter (Porter, 1985; dalam Turban, dkk, 2006). Model ini digunakan untuk
mengembangkan berbagai strategi perusahaan agar dapat meningkatkan kemampuan
bersaingnya. Model ini menunjukkan bagaimana TI dapat meningkatkan kemampuan
bersaing perusahaan.
BAB III
PEMBAHASAN MASALAH
3.1
Pengelolaan Knowledge Management Capability Dalam
Memediasi Dukungan Information
Technology Relatedness Terhadap Kinerja Perusahaan
Diawal
jurnal Luluk Muhimatul Ifada
mahasiswa Universitas Islam Sultan
Agung [2011], mengungkapkan fakta dalam pendahuluan jurnalnya tentang pengelolaan
knowledge management capability
dalam memediasi dukungan information technology relatedness terhadap kinerja perusahaan dengan
mengutip hasil penelitian Tanriverdi (2005) dan
Tanriverdi (2006).
Berdasarkan
(RBV) dan teori ekonomi complementarities sebagai grand theory dalam
penelitian yang dilakukannya, sumber utama dari sinergi lintas unit pada
perusahaan adalah sumber daya yang terkait (resource relatedness) dan
sumber daya komplementer (resource complementarity) (Tanriverdi 2005;
Tanriverdi dan Venkatraman 2005). Kedua teori tersebut mampu menciptakan
sinergi lintas unit (Farjoun 1998). Sinergi tersebut dapat membentuk sub
additive cost dan nilai super additive. Hal tersebut akan
berpengaruh dalam menghubungkan unit-unit bisnis yang terdapat dalam
perusahaan, membuka peluang untuk kolaborasi, dan meningkatkan jangkauan serta
meningkatkan banyaknya sumberdaya knowledge perusahaan (Sambamurthy et
al. 2003).
H1:
Information technology relatedness berpengaruh positif terhadap knowledge
management capability. Pengaruh Knowledge
Management Capability terhadap Kinerja Perusahaan.
Dimana dimensi knowledge
management capability secara individu tanpa menerapkan dimensi yang lainnya
tidak akan menghasilkan peningkatan kinerja yang diharapkan (Porter 1996)
sebaliknya hal tersebut justru dapat menurunkan kinerja (Milgrom dan Roberts
1995). Oleh karena itu, kinerja perusahaan diharapkan dapat meningkat
tergantung dari penerapan complementarity ketiga dimensi knowledge
management capability baik dalam produk, pelanggan, dan pengetahuan
manajerial perusahaan (Tanriverdi dan Venkatraman 2005).
H2 : Knowledge management capability berpengaruh positif terhadap
kinerja perusahaan.
Pengaruh Information Technology Relatedness terhadap Kinerja Complementarity
dari
empat dimensi ITR dapat menciptakan sinergi lintas unit dalam perusahaan dan
kemudian berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Tanriverdi (2006) memperoleh
bukti bahwa information technology relatedness berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja perusahaan multibisnis demikian pula Ifada (2009)
pada perusahaan perbankan.
H3:
Information technology relatedness berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
Pengaruh Tidak Langsung Information Technology
Relatedness terhadap Kinerja melalui
Knowledge Management Capability.
Tanriverdi
(2005) menyatakan knowledge management capability menjadi mediator
(variabel intervening) antara information technology relatedness dan
kinerja perusahaan. Apabila perusahaan mengatur complementarity information
technology relatedness secara maksimal, maka akan dapat meningkatkan knowledge
management capability lintas unit yang akan berpengaruh terhadap kinerja
perusahaan.
H4: Information technology relatedness
berpengaruh tidak langsung terhadap kinerja perusahaan melalui knowledge
management capability.
3.1.1
Analisis Pengaruh Information
Technology relatedness terhadap Knowledge Management Capability
Pengaruh positif
dan signifikan antara information technology relatedness terhadap knowledge
management capability meng-indikasikan bahwa berdasarkan konsep sinergi super
additive dalam teori ekonomi complementarity, pengelolaan sumber
daya, teknologi informasi yang dilakukan oleh perusahaan dalam hal ini
infrastruktur, strategi, sumber daya manusia, dan vendor akan secara bersamaan
mampu menciptakan sinergi sehingga dapat meningkatkan knowledge management
capability lintas unit.
Penelitian ini
terfokus pada kemampuan perbankan untuk memanfaatkan knowledge synergy lintas
unit. dengan menggunakan mekanisme koordinasi berbasis information
technology, maka kemampuan perusahaan dalam mentransfer pengetahuan
terhadap kebutuhan, pilihan, maupun perilaku membeli dari pelanggan yang
relevan diantara unit-unit bisnis (dalam hal ini kemampuan manajemen dalam
mengelola sumber daya pengetahuan perusahaan terhadap customer) akan
meningkat.
Kemampuan knowledge
management akan meningkat dalam
dunia perbankan apabila information technology relatedness secara
komple lementer sudah dibangun sehingga akan memperlancar pertukaran
pengetahuan.
3.1.2 Analisis
Pengaruh Knowledge Management Capability terhadap Kinerja Perusahaan
Seperti pada hasil
penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa kantor cabang perbankan
selalu berupaya menggabungkan pengetahuan pelanggan yang relevan antar
unit-unit bisnis untuk memperoleh wawasan pelanggan yang baru dan dipergunakan
untuk menghadapi persaingan. Peningkatan kemampuan menghadapi persaingan
tentunya mengindikasikan adanya peningkatan kinerja. Hal ini menguatkan
penerapan knowledge management capability mampu menciptakan sinergi knowledge
dan dapat digunakan oleh kantor cabang perbankan sebagai competitive
sustainability advantage sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Penelitian ini mendukung penelitian Teece (1998) dalam Tanriverdi (2005).
3.1.3 Analisis
Pengaruh Information Technology relatedness terhadap Kinerja Perusahaan
Penelitian ini dilakukan pada konteks perbankan di Jawa
Tengah. Dari hasil diungkapkan bahwa Information technology relatedness merupakan complementarity dari
empat dimensinya, yang dapat menciptakan sinergi nilai super-additive yang akan berpengaruh secara positif
terhadap kinerja perusahaan.Terbukti dengan adanya fasilitas-fasilitas yang
telah diberikan perbankan dalam memberikan layanan berbasis teknologi pada
nasabahnya.
3.1.4
Analisis Pengaruh Tidak Langsung Information
Technology Relatedness terhadap Kinerja Perusahaan melalui Knowledge
Management Capability
Dari penelitian yang
dilakukan terbukti bahwa knowledge managament capability memediasi
pengaruh antara information technology relatedness terhadap corporate
performance mampu
meningkatkan kinerja perusahaan yang memiliki unit-unit bisnis terintegrasi.
3.2
Pengaruh Perkembangan Teknologi
Informasi Terhadap Bidang Akuntansi Manajemen
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sri Maharsi Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi – Universitas Kristen Petra,
menyatakan bahwa sistem informasi akuntansi manajemen adalah sistem
informasi yang memproses input sehingga menghasilkan output untuk mencapai
tujuan khusus manajemen. Proses yang dapat dilakukan dalam perusahaan dapat
dijelaskan oleh aktivitas seperti pengumpulan, (collecting), pengukuran (measuring),
penyimpanan (storing), analisis (analysis), pelaporan (reporting),
dan pengelolaan (managing) informasi. Output yang dihasilkan dapat
berupa laporan khusus, biaya produksi, biaya pelanggan, anggaran, laporan
kinerja, bahkan komunikasi personal. Sistem informasi akuntansi manajemen
mempunyai tiga tujuan utama, yaitu (1) untuk menyediakan informasi yang
digunakan dalam perhitungan biaya jasa, produk dan tujuan lain yang diinginkan manajemen,
(2) untuk menyediaka informasi yang digunakan dalam perencanaan, pengendalian,
pengevaluasian, dan perbaikan yang berkesinambungan, serta (3) untuk
menyediakan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan (Hansen, 2000). Informasi
akuntansi manajemen dapat membantu manajemen mengidentifikasikan suatu masalah,
menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja. Informasi akuntansi manajemen
dibutuhkan dan digunakan dalam semua lingkup manajemen, meliputi perencanaan,
pengendalian dan pengambilan keputusan. Lebih jauh lagi, kebutuhan akan
informasi tidak terbatas pada organisasi manufaktur, tetapi juga mencakup
organisasi dagang dan jasa.
Penelitian juga telah mengungkapkan
fakta bahwa pada adanya pengembangan dalam lingkungan ekonomi yang terjadi saat
ini yang lebih inovatif dan relevan menciptakan dinamika bersaing antar
perusahaan, pada bidang akuntansi manajemen juga telah menunjukan pengembangan
dimana sistem tradisional pada akuntansi manajemen telah ditinggalkan, dan
mulai berkembang dengan memanfaatkan tekonologi informasi, seperti halnya
perusahaan manufaktur yang telah menggunakan sebuah sistem komputer melalui Computer-Integrated
Manufacturing = CIM, yang dapat mengoprasikan kegiatan perusahaan secara
otomatis serta secara cepat dapat diketahui laporan kegiatan tersebut, sehingga
mempermudah suatu perusahaan dalam menjalankan, mengontrol, dan mengevaluasi
kegiatan perusahaannya hal tersebut jelas akan menguntungkan bagi perusahaan
karena dapat memaksimalkan kegiataan perusahaannya dan bisa mengontrol biaya
operasi perusahaan secara efektif dan efesien. Dari penjelasan diatas
diharapkan seorang manajer perusahaan dapat menyikapi perubahan teknologi
dengan bijak serta memiliki beberapa alternatif untuk menghadapi adanya
persaingan perusahaan sehingga perusahaan yang dimiliki mampu bertahan dan
bersaing secara baik.
3.2.1 Berbagai
Masalah Yang Timbul Akibat Perkembangan Teknologi Informasi Dan Cara Mengatasinya
Pada dasarnya perkembangan teknologi informasi memiliki pengaruh
positif dan negatif, seperti yang telah dijelaskan diatas tentang manfaat yang
didapatkan perusahaan manufaktur melalui perkembangan tekonologi informasi
telah banyak membantu suatu perusahaan untuk memaksimalkan kegiatannya.
Tapi disisi lain adanya perkembangan teknologi telah menimbulkan
beberapa masalah dimana akan menimbulkan tambahan biaya yang harus disiapkan
dalam pengadaan teknologi bagi perusahaan, masalah juga timbul dari bagaimana
SDM suatu perusahaan harus mampu mengoprasikan teknologi otomatis secara teknis
dan strategi yang benar, jika adanya teknologi tidak direspon oleh pekerja
perusahaan secara dinamis seperti kurangnya pengetahuan dalam mengoprasikan
teknologi ataupun tidak menerima adanya perubahan teknologi baru, hal tersebut
membuat permasalahan yang baru bagi perusahaan, sehingga adanya teknologi
dianggap menimbulkan pemborosan bagi perusahaan karena pengadaan
peralatan-peralatan yang canggih yang diperlukan serta pengadaan pelatihan bagi
karyawan untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki.
3.3
Pengaruh Pemanfaatan Teknologi
Informasi Dan Saling Ketergantungan Terhadap Karakteristik Informasi Akuntansi
Manajemen Serta Dampaknya Terhadap Kinerja Manajerial
Dalam
pembahasan jurnal ini, Aceng Kurniawan (Dosen STIE STEMBI -
Bandung Business School) dan Citra Nensih (Peneliti Junior STIE
STEMBI – Bandung Business School) pertama membahas atau menguji hipotesis nya
dengan mengunakan uji statistic yaitu uji F (Ftabel-Fhitung) dan Uji T
(Ttabel-Thitung). Penulis menyatakan bahwa dari hasil pengujian hipotesis
tersebut, terbukti, yaitu:
1.
Pada model struktur persamaan pertama
yaitu pengaruh pemanfaatan teknologi informasi secara parsial berpengaruh
positif dan signifikan terhadap karakteristik informasi akuntansi manajemen
pada Badan Usaha Milik Negara di Kota Bandung
2.
Pada model struktur persamaan pertama
yaitu saling ketergantungan secara parsial berpengaruh positif dan signifikan
terhadap karakteristik informasi akuntansi manajemen pada Badan Usaha Milik
Negara di Kota Bandung.
3.
Sedangkan pada model struktur persamaan
kedua yaitu pengaruh karakteristik informasi akuntansi manajemen berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial pada Badan Usaha Milik
Negara di Kota Bandung.
Aceng Kurniawan dan Citra Nensih menyatakan bahwa
pemanfaatan
teknologi informasi menjadi salah satu kunci untuk dapat bertahan ditengah
persaingan yang kompetitif seperti BUMN perbankan yang sudah memanfaatkan
teknologi informasi melalui internet banking pelanggan yang mengakses
informasi tersebut akan tercatat dalam system informasi sehingga mudah dipantau
oleh para pengambil keputusan untuk meningkatkan kualitas keputusan serta
mengantisipasi perubahan minat dan kebutuhan pelanggan. Dengan demikian, untuk
dapat meningkatkan kinerja manajerial diperlukan usaha untuk memperbaiki sistem
informasi agar lebih baik dalam ketersediaan informasi bagi para pengambil
keputusan. Informasi dengan karakteristik broadscope, timeliness, aggregation
dan integration merupakan
empat karakteristik informasi yang diperlukan oleh para manajer. Maka dari itu,
diharapkan sistem informasi dapat memenuhi informasi berdasarkan keempat
karakteristik tersebut yang ditunjang dengan pemanfaatan teknologi informasi
untuk menghasilkansistem informasi yang baik dan berkualitas.
3.4
Kontribusi Nilai Teknologi
Informasi Terhadap Kinerja Proses Bisnis Dan Dinamika Bersaing
Harus dipahami
bahwa teknologi informasi bukan hanya sekedar perangkat keras
dan perangkat lunak saja, akan tetapi mencakup perpaduan antara pengetahuan,
metode dan teknik dalam menggunakan informasi dalam dunia bisnis. Menurut
Turban, Rainer dan Potter (2006:49). Dimana teknologi sebenarnya meliputi
infrastruktur TI serta semua sistem informasi lainnya di perusahaan, yang akan
mempengaruhi jalanya kegiatan proses bisnis dalam dinamika bersaing saat ini.
Hal tersebut akan menciptakan rantai nilai produk dan jasa, yang diyakini oleh
konsumen yang telah dikurani oleh biaya-biaya, adapun rantai nilai terbagi
menjadi dua bagian diantaranya rantai nilai utama dengan rantai nilai
pendukung. Rantai nilai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Rantai
nilai utama
Berkaitan
dengan awal masukan input baik bahan baku, SDM, teknologi, sampai dengan
menghasilkan sebuah keluaran output, untuk siap dipasarkan dan siap menjadi
pesanan bagi konsumen umum dengan berbagai pelayanan yang disiapkan oleh
perusahaan.
2. Rantai
nilai pendukung
Berkaitan
dengan infrastruktur dan organisasional perusahaan yang sangat berpengaruh
dalam kegiatan bisnis suatu perusahaan, khususnya dalam pengembanngan SDM yang
ditujukan agar menguasai perkembangan teknologi informasi yang ada untuk
memaksimalkan keuntungan suatu bisnis perusahaan.
Rangkaian rantai nilai yang digunakan dalam kegiatan
bisnis tersebut semata-mata dilakukan untuk memaksimalkan usaha bisnis suatu
perusahaan dalam menghadapi persaingan yang ketat. Dan dalam penelitian
tersebut telah mengungkapkan bahwa tekanan persaingan bisnis suatu perusahaan
dapat di hadapi dengan menyiapkan model tekanan
persaingan yang merupakan kerangka kerja yang paling terkenal untuk
menganalisis persaingan dari Porter (Porter, 1985; dalam Turban, dkk, 2006).
Model ini digunakan untuk mengembangkan berbagai
strategi perusahaan agar dapat meningkatkan kemampuan bersaingnya. Model ini
menunjukkan bagaimana TI dapat meningkatkan kemampuan bersaing perusahaan,
berikut strategi untuk keunggulan
kompetitif yang dikemukakan Porter dan para ahli lainnya mengajukan
berbagai strategi untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dan untuk menghadapi
tekanan persaingan bisnis oleh Porter, 12 strategi tersebut dalam Turban dkk.
(2006:24) adalah :
1.
Strategi kepemimpinan biaya. Memproduksi
produk dan/atau jasa terendah dalam industrinya.
2.
Strategi diferensiasi. Menawarkan
berbagai produk, jasa, atau fitur produk.
3.
Strategi relung pasar (niche).
Memilih segmen berlingkup kecil (atau sering disebut relung atau ceruk pasar, niche) dan menjadi yang terbaik dalam kualitas,
kecepatan, atau biaya dalam pasar itu.
4.
Startegi pertumbuhan. Meningkatkan
pangsa pasar, mendapatkan lebih banyak pelanggan, atau menjual lebih banyak
produk.
5.
Strategi inovasi. Memperkenalkan
berbagai produk dan jasa, memberikan berbagai firtur baru dalam produk dan jasa
yang ada, atau mengembangkan berbagai cara baru untuk memproduksinya.
6.
Strategi aliansi. Bekerja sama dengan
berbagai mitra bisnis dalam persekutuan, aliansi, usaha bersama, atau perusahaan
virtual.
7.
Strategi efektivitas operasional.
Meningkatkan cara proses bisnis internal dilakukan hingga perusahaan melakukan aktivitas
yang hampir sama dengan cara yang lebih baik dari para pesaingnya.
8.
Strategi orientasi pada pelanggan.
Berkonsentrasi untuk membuat pelanggan senang. Persaingan yang ketat dan kesadaran
atas pentingnya pelanggan adalah dasar dari strategi ini.
9.
Strategi waktu. Memperlakukan waktu
sebagai sumber daya, kemudian mengelola dan menggunakannya untuk keuntungan
perusahaan.
10. Strategi
halangan masuk. Menciptakan halangan untuk masuk bagi para para pesaing baru.
11. Strategi
megikat pelanggan atau pemasok. Mendorong para pelanggan atau pemasok untuk
tetap bersama anda daripada beralih ke pesaing.
12. Strategi
meningkatkan biaya beralih. Membuat pelanggan dan pemasok enggan untuk beralih
ke pesaing karena berbagai alasan ekonomi.
3.4.1 Kontribusi
TI Terhadap Proses Bisnis Dan Dinamika Bersaing
Teknologi
Informasi merupakan hal yang penting bagi keberhasilan suatu perusahaan, yang
memiliki peranan yang cukup berpengaruh dalam kegiatan bisnis suatu perusahaan.
Talon
dkk. (1990) dalam Ekayani, Ghozali, dan Zulaekha (2005) meninjau secara
akademis dari berbagai literatur profesional untuk mengidentifikasi dimensi
nilai bisnis TI, kemudian membaginya ke dalam 7 proses bisnis lebih lanjut yang
berbeda, atau dimensi nilai bisnis TI, seperti yang diuraikan di bawah ini:
1.
Supplier Relations
TI
dapat digunakan untuk mengkoordinir hubungan penyalur atau untuk mengurangi
biaya-biaya penagihan organisasi (McFarlan, 1991 dalam Ekayani dkk., 2005).
2.
Production and Operations
TI
dapat digunakan untuk perbaikan teknik produksi melalui alat bantu komputer
untuk design pabrikasi (Kelley, 1995; dalam Ekayani dkk., 2005).
3.
Product and Service Enhancement
Kemampuan
TI memungkinkan pengembangan produk dan jasa baru, dapat memungkinkan suatu
organisasi untuk mengidentifikasi dan melayani segmen pasar baru (Pine, Peppers,
dan Rogers, 1995; dalam Ekayani dkk., 2005).
4.
Sales and Marketing Support
Dukungan
TI untuk pemasaran dan penentuan harga dapat membantu meningkatkan pendapatan
dari penjualan, seperti yang ditunjukkan oleh perusahaan penerbangan pada
sistem reservasi terkomputerisasi.
5.
Customer Relations
TI
dapat membantu perusahaan untuk membangun suatu hubungan yang harmonis dengan
pelanggannya.
6.
Process Planning and Support
TI
dapat digunakan untuk menyediakan kelengkapan informasi dalam perencanaan dan
pengambilan keputusan dengan meningkatkan koordinasi dan komunikasi organisasi
dan dengan meningkatnya stabilitas organisasi (Ekayani dkk., 2005).
7.
Hubungan antar Proses dan Dinamika
Bersaing
Dinamika
bersaing dapat dipengaruhi oleh strategi pemasaran sukses, sedang daya saing
dapat ditingkatkan dengan memperbaiki pilihan produk dan biaya (Porter dan
Millar, 1991; dalam Ekayani dkk., 2005).
BAB IV
PENUTUP
4.1
Simpulan
Dari hasil
review jurnal penelitian diatas yang dilakukan oleh Luluk Muhimatul Ifada mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung [2011], Timbul Hamonangan Simanjuntak
mahasiswa Politeknik Bahasa Indonesia, Sri Maharsi Dosen Fakultas
Ekonomi Jurusan Akuntansi, Kiki
Widiastuti, Wahyu Meiranto, S.E., M.Si., Akt mahasiswa Universitas Diponegoro
Semarang, dan Eunike Karunia
Sentosa mahasiswa Unika Widya Mandala Surabaya [2012], menyatakan bahwa hasil penelitian ini konsisten dengan
penelitian Tanriverdi (2005) dan Tanriverdi (2006) yang menjelaskan peningkatan
sinergi nilai super-additive yang timbul dari penggunaan kesatuan
komplementer sumber daya teknologi informasi lintas unit mempunyai pengaruh
signifikan terhadap knowledge management capability, sinergi nilai super-additive
yang timbul dari penggunaan kesatuan komplementer knowledge management
capability berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan, sinergi
nilai super-additive yang timbul dari penggunaan kesatuan komplementer information
technology relatedness lintas unit mempunyai pengaruh signifikan terhadap corporate
performance.
Selain itu
adanya perkembangan tekonologi informasi berpengaruh juga dalam bidang
akuntansi manajemen, yang menuntut akuntansi manajemen untuk menyesuaikan
dengan perkembangan kegiatan perusahaan baik kegiatan bisnis maupun kegiatan
perbankan.
4.2
Saran
Penelitian ini memiliki
beberapa keterbatasan penelitian, antara lain:
1. Objek
penelitian ini menggunakan perbankan kantor cabang di Jawa Tengah, penelitian
berikutnya akan lebih representatif apabila menggunakan bank kantor pusat
karena kebijakan information technology dan knowledge management
capability perbankan ada pada kantor pusat.
2. Penelitian
ini tidak mampu menganalisis seluruh populasi sebagaimana tujuan menggunakan
sensus dikarenakan penggunaan metode mail survey, selain itu keakuratan
jawaban pengisian kuesioner juga menjadi kendala apabila kemungkinan responden
salah dalam mempersepsikan maksud yang sebenarnya atau karena kemungkinan
adanya kelemahan dalam penerjemahan instrumen dari Tanriverdi (2005) dan
Tanriverdi (2006), sehingga dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam arti
sebenarnya yang ingin dicapai serta peneliti tidak dapat mengetahui dengan
pasti bahwa seluruh kuesioner yang digunakan benar-benar diisi oleh pihak yang
dituju dalam penelitian ini, karena peneliti menggunakan asumsi kuesioner yang
kembali dan dinyatakan diisi oleh pimpinan cabang bank yang bersangkutan
dianggap sudah memenuhi persyaratan, kecuali dinyatakan diisi oleh pihak lain
maka tidak digunakan. Penelitian kedepan hal tersebut diatas akan dapat
teratasi apabila menggunakan wawancara langsung terhadap seluruh responden.
3.
Karena berdasarkan penelitian ini, masih
terdapat indikator yang nilai loading factor dibawah 0,5 dimungkinkan
karyawan tersebut belum sepenuhnya memahami tentang kegunaan TI, SK, SAM,
terhadap kinerja manajerial mereka. Seingga diharapkan agar para karyawan/
karyawati dapat melakukan dan mengikuti pelatihan agar dapat mengerti tentang
kegunaan dan pentingnya sistem akuntasi manajemen bagi perusahan. Karena dalam
penelitian ini masih terdapat loading factor yang nilainya dibawah 0,5
,sehingga dalam melakukan penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah
beberapa variabel lainnya yang juga dapat mempengaruhi sistem akuntansi
terhadap kinerja manajerial seperti teknologi informasi, saling ketergantunga,
dll.
4. Karakteristik
Informasi yang luas dirasakan kurang tersedia oleh para manajer, maka sebaiknya
informasi broadscope disediakan guna membantu para manajer dalam
mempertimbangkan keputusan yang akan diambil sebagai usaha dalam memperkuat
manajerial perusahaan. Dengan informasi yang lebih luas, manajer dapat melakukan
pemilihan alternatif keputusan untuk menghasilkan putusan terbaik.
5. Sampel
yang peneliti gunakan adalah BUMN, masih perlu dilakukan penelitian kembali
pada populasi yang berbeda misalnya perusahaan swasta untuk megeneralisasikan
hasil penelitian.
6. Banyak
keterbatasan dalam penelitian ini, sehingga diharapkan untuk
penelitian-penelitian selanjutnya dilakukan perbaikan dengan tidak hanya
meneliti variabel pemanfaatan teknologi informasi dan saling ketergantungan
saja, tapi juga mengembangkan variabel kondisional lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ifada, Luluk Muhimatul. 2011. “Pengelolaan Knowledge Management Capability Dalam
Memediasi Dukungan Information Technology
Relatedness Terhadap Kinerja Perusahaan”. Jurnal Akuntansi dan Keuangan
Indonesia Volume 8 - No. 1.
Simanjuntak, Timbul Hamonangan. 2012. “Pengaruh Information Technology Relatedness Terhadap
Kinerja Perusahaan Dengan Knowledge Management Capability Sebagai
Variabel Intervening Kajian Empiris
Pada Perusahaan Perbankan Di GunungSitoli”. Jurnal Murni Sadar Volume 2-No. 2.
Maharsi, Sri. 2000. “Pengaruh Perkembangan Teknologi
Informasi Terhadap Bidang Akuntansi Manajemen”. Jurnal Akuntansi & Keuangan
Vol. 2, No. 2.
Widiastuti, Kiki dan Wahyu Meiranto, S.E., M.Si., Akt.
“Pengaruh Teknologi Informasi dan Saling Ketergantungan terhadap Kinerja
Manajerial dengan Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen sebagai Variabel
Intervening”.
Sentosa, Eunike Karunia. 2012. “Kontribusi Nilai Teknologi
Informasi Terhadap Kinerja Proses Bisnis Dan Dinamika Bersaing”. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Akuntansi – Vol. 1, No. 4.
LAMPIRAN
- LAMPIRAN

mbak boleh kah saya meminta kontaknya mbak? saya mau bertanya tentang skripsi yang berjudul Pengelolaan Knowledge Management Capability Dalam Memediasi Dukungan Information Technology Relatedness Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen Sebagai Variabel Intervening?
BalasHapus